Najma(4,5 th) putri ke dua ku memiliki watak koleris. Seperti koleris lainnya najma memiliki sifat yang pantang menyerah, semangat, cepat meluapkan emosi marahnya, berpikir logis. Bila najma menginginkan sesuatu seperti ingin jajan, ingin menonton, atau ingin mainan maka dia akan berusaha sekuat tenaga dan tidak menyerah dengan keinginannya. Bila keinginannya tidak dituruti maka dia sangat mudah marah dan mengamuk.
Pada hari itu, Najma sudah melahap beberpa judul kartun yang digemarinya di TV. saatnya stop karena terlalu lama menonton tidak baik bagi perkembangan emosi dan kesehatan matanya. Awalnya sudah dibilang baik-baik."sudah nontonnya ya nak", tapi tidak mempan. yang kedua" udah sayang, nanti matanya sakit" juga tidak mempan. lalu tampa banyak komentar lagi aku matikan TVnya. Seperti biasanya dia marah, nangis meraung-raung, ngamuk. Otak ku berputar bagaimana menenangkannya. Berbagai teori dari artikel yang pernah ku baca aku terapkan. Tetap tenang, lalu memeluknya. Tapi dia malah meronta-ronta dan melepaskan diri serta menjauh dari ku. ku coba teori kedua, meninggalkannya sampai emosi nya reda. Tapi seakan-akan dia punya energi yang begitu besar untuk menangis, mengamuk sambil terus dalam waktu yang lama sambil terus berguman agar keinginannya terkabulkan. Lalu timbullah ide dari ku, kupeluk dirinya, walaupun dia meronta-ronta ku ambil telapak tangannya lalu ku bawa kedadanya. Saat itu dia sedikit terdiam lalu ku katakan kepadanya" tuh dengarlah detak jantung dedek (kami biasa memanggilnya dedek Iim) kencang sekalikan detak nya kan". Dia pun semakin terdiam dan turut merasakan apa yang ku katakan padanya. mungkin dia juga merasa denyut jantungnya begitu kencang. tiba-tiba tangisannya berhenti lalu berguman "iya mi, jantung dedek kencang, dukdukdukduk ya mi!' serunya menirukan detak jantungnya yang cepat. Lalu ku bawa telapak tangannya kedadaku agar dia merasakan detak jantung ku. "Bagaimana, bedakan detak jantung dedek dangan detak jantung umi? tanya ku. " Iya mi, jantung umi duuuk, duuuk, duuuk" jawabnya. Sambil memeluknya aku terangkan deh kalau jantung kita denyutnya akan semakin kencang detaknya, bila kita marah, dan karena dia masih balita maka ku pilih kata yang paling cepat dia pahami. " Dek, kalau dedek sering marah-marah, denyut jantungnya semakin kencang dan jantung dedek bisa "meledak" kata ku. Ternyata keteranganku dapat dia pahami. "Jadi kalu kita sering marah-marah, jantung kita bisa meledak ya mi" dedek ndak mau jantung dedek meledak mi.dedek tak mau marah-marah lagi mi." katanya. Ku bawa telapak tangannya kedadanya mendengarkan lagi detak jantungnya." Sekarang bagai mana detak jantung dedek" tanya ku padanya."Duuuk,duuuk,duuu, sama dengan jantung umi" jawabnya sambil bergantian meletakan telapak tangannya kedada ku dan dadanya."Nah kalau dedek tak mau jantung nya "meledak" jangan suka marah-marah lagi yan nak! kataku.Samil tersenyum dia mengangguk dan bergelayut manja dipelukan ku.
Saat Abinya pulang dari kantor, dia langsung bercerita dan "menasehati " abinya." Abi jangan suka marah-marahnya, nanti jantungnya "meledak". terheran-heran abinya bertanya dan dia ceritakan deh peristiwa tadi pagi. aku hanya tersenyum mendengarkannya bercerita kepada abinya.
Sekarang, Najma tidak pemarah lagi, setiap dia mau marah, aku berikan isyarat dengan membawa telapak tangan ke dada. dan dia pun mengerti bahwa itu isyarat untuk mendengar detak jantung yang semakin cepat dan bisa "meledak", maka dia mulai mengatur emosinya dan tidak begitu marah dan begitu cepat bisa dikendalikan. dan itu juga berlaku untuk kakak dan adiknya. oh ya, juga berlaku untuk aku dan abinya, bila melihat aku atau abinya akan marah, maka mereka akan meletakkan telapak tangan di dada sambil berujar|" jangan marah mi, nanti jantung ummi "meledak"!!!!.
"Terimakasih ya sayang sudah ingatkan Ummi. aku berterimakasih kepada mereka, putri-putri kecilku yang seperti bunga dan bidadari lucu bagi ku.
Selasa, 31 Maret 2015
Kamis, 26 Maret 2015
futur
FUTUR...
Berangsur-angsur majlis pekanan lengang. Satu persatu anggota majlis tak datang dengan berbagai alasan, syukur ada izin lewat murobbi lewat sms,telpon atau titip pesan pada teman. Bahkan ada yang tak datang2 tampa berita, dan mundur dengan diam2.
Berangsur-angsur jilbab yang dalam dan lebar yang anggun & santun berobah. Berobah menjadi jilbab yang pendek dan mini.Alasannya banyak; penyesuaian dengan lingkunggan lah...panas lah..., akhwat harus modis lah dan lain-lain.
Berangsur-angsur kehangatan ukhuwah menjadi dingin. Senyum tak seindah dan seikhlas dulu, simpati dan empati tak ada lagi; apalagi itsar, tak adalagi. semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing.
Berangsur-angsur pergaulan dan hijab dengan lawan jenis menjadi longgar. ghodul basyar tak dipakai lagi, ngobrol dengan lawan jenis tak ditemani mahram lagi, menelpon, sms an, chatting dengan lawan jenis sudah biasa. bahkan HTS an sudah banyak terjadi. Alasannya banyak... agar bisa di terima didunia kerja lah..., agar mudah dapat jodoh lah...dll
Berangsur-angsur waktu untuk berubudyah kepada Allah di perpendek. Sholat sunat rawatib di hilangkan; dhuha di undur-undur sampai waktu nya habis; qiymul lail apa lagi, sudah lama di delete. Alasannya banyak dikejar deadline lah..., sibuk lah..., lupa lah...,ngantuk lah...dan banyak lagi. Masih untung sholat fardhu masih di awal waktu, kadang hampir dempet dengan waktu berikutnya.
Berangsur-angsur tilawah quran yang dulunya 1 juz sehari di potong. tinggal hanya beberapa halaman saja sehari. Alasannya banyak!! ada buku yang lebih menarik lah...ada buku yang kebih mencerdaskan lah...ada buku yang lebih berbobot lah.
berangsur-angsur hari-hari diisi dengan yang sia-sia. nonton gosip selebritis, shopping di mall berjam2, ngegame sampai mata nya lelah. Alasannya banyak; sekali-sekali lah... ikut-ikutan teman saja lah... atau seribu alasan lainnya.
Akhwatifillah... tahu kah kita kalau kita sudah di hinggapi penyakit FUTUR???
sadarkah kita...???
Apakah kita mau tetap di hinggapi oleh penyakit ini???
Mari sama-sama kita bangkit!!!
Kita gapai kembali sholat yang khusuk di awal waktu, sholat2 nafilah yang indah, ukhuwah yang hangat, izzah yang anggun dengan hijab dengan lawan jenis. kecantikan dan keanggunan dengan jilbad yang dalam dan pakaian yang longgar. Pengajian pekanan yang di rindukan dan di nanti-nantikan.
Saudari ku yang ku cintai karena Allah...mau kah kita menjadi kaum yang digantikan oleh Allah dengan oarng-orang yang mencintai Allah, dan Allah pun mencintai mereka; karena kefuturan dan kejauhan kita dari Allah, dakwah, dan jama'ah.
Jangan...
Karena kita yang butuh da'wah...
bukan da'wah yang butuh kita.
Hidup adalah Latihan
Hidup adalah Latihan
kupikir...aku jg tak jauh dari putri yang 9bln. belajar menapaki kehidupan ini. kadang terjatuh, kdg berhasil.
Hidup tak lepas dr proses latihan,,,dan latihan.
latihan berjalan seperti putri kecil ku, agar dapat berlari kencang meraih kesuksesan dunia& akhrat.
kapan istirahat nya?
seperti Najma putri kecil ku yg hanya istirahat bila ngantuk menyerang,,,aku...dan kita semua akan istirahat nanti...saat ajal menjelang. saat menatap wajah pujaan. Allah Rabbul'alamin.
Senin, 22 Desember 2014
Ibu
Ibu
Ibu…Sebuah kata yang menggetarkan hati siapa saja.
Singkat katanya, begitu luas maknanya. Sehingga apa saja yang dikenai
oleh kata ibu, maka akan menjadi lebih berharga, sepeti kota, bila dikenai kata
ibu maka akan menjadi kota yang istimewa yaitu ibu kota. jari, bila dikenai
kata ibu akan menjadi ibu jari. dan begitu juga seorang wanita, bila dianugrahi
menjadi seorang ibu oleh sang maha pencipta, maka harkat dan martabat wanita
tersebut langsung naik tiga peringkat, seperti yang disabdakan Rasulullah
Muhammad SAW :
"Dari
Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang
kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah,
kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi
wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian
siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang
tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’
Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi
wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim
no. 2548)
Kita sudah lihat dan rasakan sendiri, kelayakan
seorang ibu dinaikan derajatnya dari pada ayah karena memang ibu lah yang
mengandung, melahirkan, menyusui, dan bembesarkan kita.
Dulu, sewaktu belum menikah, sewaktu belum
merasakan bagaiman rasanya mengandung, bagaimana rasanya melahirkan , dan
merasakan bagaimana menyusui dan membesarkan anak, selaku anak tentu kita
harus berbakti dan berterimakasih kepada ibu atas pengorbanan dan jasa-jasa
nya, akan tetapi saat kita sebagai seorang wanita telah dianugrahi menjadi
seorang ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan, maka
pemaknaan akan jasa- jasa dan pengorbanan seorng ibu, jauh, jauh lebih dalam.
Bagaimana lemah dan menderitanya seorang ibu saat
mengandung anaknya, badan lemah, tak nafsu makan, pusing, mual-mual, sesak
nafas, sakit pinggang, kram kaki, kram perut, belum lagi menyanggah berat perut
yang bertambah.
“…
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun…” (Qs.
Luqman : 14)
Selang waktu bulan maka,perasaan bahagia, bercampur
takut, dan cemas untuk menyongsong kelahiran sibuah hati. Sakit nya tak
terkatakan, malu harus dilawan saat aurat harus tersingkap,tenaga terkuras,
darah tertumph, keringat dan air mata bercucuran demi melahirkan buah hati
tercinta.
Belum selesai “penderitaan” menyusui merupakan proses yang panjang dan melelahkan
tak tau siang dan malam.
Lanjut saat proses membesarkan, di mana sang ibu
mendidik, mengajari, mengasuh, melayani anak-anaknya. jiwa, raga, kesehatan,
waktu. Materi, persaan, semuanya, ibu berikan dan korbankan untuk ananda
tercinta.
Tak cukup beribu bakti dan ucapan terima kasih yang
harus ku ucapkan kepada mu ibu, atas semua yang telah Engkau berikan dan engkau
korbankan untuk ku, anak mu.
Semoga Allah SWT yang maha melihat setiap
pengorbanan mu, mendengar tangis dan keluh kesah mu, membalas semua kebaikan
mu, pengorbanan mu Ibu. Aamiin.
Sabtu, 20 Desember 2014
Ikhlas
Ikhlas
Keikhlasan
Dalam memberi bukan saja disaat akan
memberi, tapi juga setelah memberi. Hal ini mungkin agak terlupakan. Hal ini
terasa, mungkin disaat kita berlatih
untuk ikhlas, belajar untuk berbagi disaat kita juga sulit. Berbagi disaat kita
juga membutuhkan.
Ikhlas disaat member mungkin sudah
kita latih juga saat kita kecil dan di pengajian di mesjid atau televisi juga
sering kita dengar dari penceramah. Akan tetapi ikhlas setelah memberi mugkin
jarang kita dengar.
Keikhlasan
kita teruji disaat barang atau sesuatu yang kita berikan kepada orang lain
tersebut ternyata tidak di mangfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bahkan mungkin saja dibuang oleh yang menerima,
atau tidak mendapat sambutan hangat dari yang menerima. Dimana keikhlasan kita
yang mungkit sudah hamper agak sempurna disaat member menjadi rusak saat hal
ini terjadi.
Ikhlas,,,
pendek katanya tapi sunguh berat. Dimana kita harus menafi kan semua nafsu kita
sebagai manusia. Nafsu untuk dihargai ,walaupun hanya dalam bentuk ucapan
terima kasih dan senyuman. Nafsu untuk
diakui sebaagai orang yang baik, paling kurang dari yang menerima.
Sayang… Ibu di Sini di Dekat Mu Nak!!
Sayang… Ibu di Sini di Dekat Mu Nak!!
Sekarang
ini banyak sekali kita temui disekitar kita “anak yatim”, bahkan yatim piatu
yang beribu berayah. Ayah ibu nya belum meninggal tapi nasib mereka hampir sama
dengan anak yatim piatu yang orang tuanya memang sudah berpulang keharibaan
Ilahi. Di mana mereka tumbuh dan besar bukan didekat dan pengawasan orang
tuanya, tetapi dibesarkan oleh orang lain seperti pempantu, babysitter, pengasuh di tempat-tempat penitipan anak (day care) ,
tetangga atau kerabat. Di manakah ayah
ibu mereka???terutama ibu mereka???ternyata Ibu-ibu mereka sibuk, entah itu
sibuk arisan,Shopping di mall, bekerja, berkarir, kuliah atau ibu nya jauh di
negeri orang untuk menjadi TKW.
Sebagian
besar ibu-ibu sekarang banyak yang berpendapat seperti ibu diatas, bekerja
berhabis-habis waktu demi kebagian anak-anak. Yang perlu dipertanyakan apakah
“pengorbanan “ si ibu apakah memang membuat anak bahagia???Apakah benar untuk
memenuhi kebutuhan si anak???
Mungkin
sudah kita ketahui bersama,kebutuhan manusia ( termasuk anak, karena anak juga
manusia) tidak hanya kebutuhan fisik seperti makan, minum pakaianndan rumah,
bahkan lebih dari itu ada kebutuhan psikologis dan spiritual seperti cinta,
kasih sayang, perhatian, empati dll Sedangkan kebutuhan spiritualnya seperti
lurus dan bersihnya akqidah si anak terhadap Allah, ketenangan jiwa sianak
dalam beragama, beribadah yang benar sesuai dengan syariah yang di contohkan
Rasulullah, akhlak yang terpuji seperti yang dicontohkan rasulullah SAW dll.
Rasulullah
SAW bersabda yang artinya “ ibu adalah sekolah yang pertama bagi anak.”
Alangkah indah nya dan banyak nya pahala yang didapat seorang ibu bila
pengetahuan tentang Allah dan Rasulnya didapatkan anak lewat pengajaran ibunya
di rumah, alangkah indahnya pahala
mengajarkan huruf hijaiyah diambil oleh sang ibu, akhlak-akhlak terpuji lainnya
jangan sampai anak mendapat tauladan dari orang lain. Atau yang lebih jauh nya
lagi si ibu langsung menghendel pendidikan si anak dengan program “home schooling”
bila si ibu mampu, kenapa tidak???
Selain
itu anak butuh kasih sayang orang tua terutama ibu berupa perhatian yang nyata
dimana si ibu benar-benar hadir di dekat mereka. Bahkan lebih dari pada itu
anak-anak butuh belaian, dekapan, ciuman dari orang tua mereka.Terlebih lagi
saat anak sakit, sedih takut dan kecewa. Misalnya saja bila kaki kaki kecil
mereka terjatuh mereka butuh orang untuk membantu berdiri,mengobati,memeluk,membelai
,serta menggendong tubuh kecil mereka untuk menenangkan mereka. Bila ibu mereka
tidak didekat mereka kepada siapa mereka meminta belaian hangat untuk sekedar
menenangkan hati mereka? Oranglainkah?! Atau sebaliknya sianak memiliki
prestasi. Walau sekecil atau sesederhana apapun prestasi mereka, mereka yang
masih kecil itu juga butuh diberi apresiasi, pengakuan, senyum hangat dari
orang tua mereka terutama ibu. Seperti kesuksesan mereka melangkahkan kaki-kaki
kecilnya di lantai bila diberi senyuman,
pujian dan semangat dan apresiasi dari ibu mereka dengan sekedar melontarkan
kalimat” Subhanallah,,, anak ibu sudah bisa berjalan” tentu akan member
motivasi bagi sianak untuk mencoba dan berlatih lagi, mengeksplor kemampuannya.
Tapi bila ibu tidak ada di sisi si anak, siapa yang akan memberi
semangat??orang lain kah?? Iya kalau orang lain tanggap, kalau orang lain tidak
tanggap bagai mana??tentu anak kita akan tumbuh sendiri tampa perhatian,empati,
dan hangat nya kasih sayang. Anak yang di besarkan tampa perhatian, kehangatan
cinta kasih dan empati yang tulus ikhlas maka akan tumbuh menjadi anak yang
tidak mampu juga memberikan perhatian, kehangatn cinta kasih, serta tidak bisa
berempati kepada orang lain, termasuk tanti juga kepada ibu mereka, ayah dan
orang terdekat mereka. Anak akan tunbuh menjadi orang yang cuek, acuh tak acuh
seperti robot.
Seorang
teman lama bertemu dengan penulis di dalam bis. Dalam perjalanan siteman
menceritakan kesuksesannya menjadi seorang dosen disebuah universitas di
sumatera barat. Dia bercerita tentang bagusnya karir nya dan suami nya. Saat
Tanya bagaimana dengan anaknya dengan enteng dia mengatakan bahwa anak-anak nya
di tempat penitipan anak. Apa sianak tidak rewel saat di tinggal pergi kerja,
Tanya saya kepada dia. Dengan bangga si teman mengatakan” indak, anak-anak lah
tabiaso.yang gadang se di situ (tempat penitipan anak)lah sajak bayi umua 3
bulan.tu kini lah 3tahun.Disitu se nyo pandai bajalan do mangecek!!!(tidak
anak-anak sudah terbiasa. Bahkan anak yang serang berumur 3 th, di sana sudah
sejak bayi umur 3bln. Di tempat penitipan anak itu saja anaknya pandai berjalan
dan bicara) MasyaAllah!!! Tega nya hati saya membatin.
Memang
anak-anak tetap bisa tumbuh besar, walau
tidak didekat ibunnya, akan tetapi anak
yang tumbuh dan dibesarkan pembantu dan baby sitter tentu saja menjadi anak
“sekwalitas’ pembantu atau babysitter yang notabe nya tidak berpendidikan
tinggi. Itu baru dari segi kwlitas keintelektualan saja bagai man dengan
kualiatas kesholehan dan kepafaman mereka terhadap nilai-nilai spiritual. Belum lagi kwalitas kasih saying dan
perhatian, tentu saja tidak bias dibandingkan dengan ibu yang mengandung dan melahirkan anak-anak
tersebut.
Anak-anak
yang dititipkan di tempat penitipan anak atau day care mungkin lebih beruntung
daripada anak yang ditinggalkan dengan pembantu atau baby sitter, karena di
tempay penitipan anak atau day care secara kwalitas intelektualan dan
spiritualitas anak agak lebih baik disbanding anak yang ditinggal dengan
pembantu atau baby sitter. Tapi
menitipkan anak di tempat penitipan anak atau day care tidaklah gratis!
Perlu dana yang lumayan apalgi tempat
penitipan anak atau day care yang cukup berkwalitas. Akan tetapi sebagus apapun
kwalitas tempat penitipan anak atau day care dengan pengasuh yang sudah
terlatih mengasuh tidak bisa menandinggi kwalitas ibu yang mengasuh anak nya sendiri. Dengan naluri keibuan yang
sudah dianugrahi Allah di tambah dengan ilmu tentang pengasuhan anak yang
sangat mudah didapatkan di Koran, tabloid, internet dll, sang ibu tentu bisa
mengalahi pengasuh di tempat penitipan anak atau day care se bonafit apapun.
Sedikit
lebih beruntung anak yang di titipkan kepada kerabat. Dari segi dana, tentu
tidak ada, tapi apakah kwalitas penjagaan kerabat terhadap anak kita aka lebih
baik dari pada kita, ibu anak kandung kita sendiri kerabat kita juga ada anak
yang harus di perhatikannya, dan ada juga tanggung jawab lainnya. Apalagi
kerabat yang mengasuh anak kita adalah orang tua atau lebih tepatnya ibu kita
atau nenek si anak sendiri. Bagi sinenek yang masih kuat, tentu tidak sangat
memberatkan, bagaimana dengan bila nenek si anak yang mana ibunda kita tercinta
sudah tua, lemah dan sakit-sakitan, kita mintai tolong untuk mengasuh anak
kita. Yang nama nya anak kecil semua nya minta dilayani, minta di gendong.
Bayangkan lah bagaimana ibunda kita yang sudah tua harus membersihkan kotoran
anak kita, menceboki bila anak kita pipis atau pup. Mengendonangi anak kita
yang beratnya lumayan membuat tangan pegal , terlebih lagi bagi tangan ibu kita
yang mulai lemah dan sakit-sakitan.
Belum lagi bila anak kita yang masuk masa eksplorasi, tentu rumah akan
sangat berantakan , dan bila keluar rumah bayangkan betapa lelahnya ibunda kita
atau nenek si anakharus mengejar sianak bila dia berlari ketempat yang
berbahaya. Bayangkan apakah ibunda kita masih bisa merebahkan badan nya untuk
beristirahat, bila anak kita menangis minta makan, apakah ibunda kita masih
bisa beribadah kemasjid karena beliau kita bebani pula amanah yang seharusnya kita
yang mengembannya bukan lagi Ibunda kta yang sudah uzur. Apakah kita tidak
menzhalimi ibunda kita yang dulunya juga sudah kita repotkan dalam mengasuh
kiat di waktu kecil, nah apakah sekarang harus beliau juga??? Apakah yang
pantas sebutan buat kita??anak durhaka
kah??? Atau ada sebutan yang lain?? Memang ibunda kita juga menyayanggi anak
kita, karena anak kita adalah cucu beliau, tapai jangan dimintai mereka
mengasuh anak kta sepanjang hari. Untuk beberapa saat sih masih oke!! Atau kita
bersama-sama beliau mengasuh sianak.tentu akan menjadi kebagiaan tersendiri
bagi ibunda kita dalam mengisi hari tuanya.
Akan
tetapi sekali lagi tidak ada yang bisa menandingi kasih sayang , dekapan,
perhatian dari seorang ibu. Karena tanggung jawab atau anak diamanahi Allah
kepada orang tua terkhususnya ibu. Karena secara fitrah sianak lebih membutuhkan
dan dekat dengan sang ibu dibanding yang laiannya. Karena kebutuhan dan
kedekatan anak dengan ibu sudah dimulai sejak anak masih berupa jabang bayi di
dalam rahim ibu. Dimana semua kebutuhan hidup dan kehidupan si jabang bayi
seperti nutrisi dan oksigen untuk
bernafas si bayi didesain Allah lewat
plasenta dan tali pusar didalam rahim ibu. Orang yang paling dekat dengan bayi
didalam kandungan tentu saja ibu yang yang mengandungnya. Orang yang pertama
kali di kenali oleh bayi didalam kandunggan tentu juga sang ibu yang
mengandungnya. Jabang bayi mengenali ibunya lewat aroma tubuh dan sura ibu. Sewaktu Allah
mengizinkan si jabang bayi lahir kedunia, perjuanggan untuk lahir ke dunia pun
dilakukan si bayi bersama –sama dengan ibu tercinta.setelah lahir pun Allah
masih menautkan bayi dan ibu secara lahir dan batin lewat makanan terbaik untuk
seorang insan manusia tentu saja air susu ibu nya sendiri, bukan susu dari sapi
atau binatang ternak lainnya.walau semahal dan apapun susu tersebut Karena anak
kita adalah bayi manusia. Bukan bayi sapi. Susu sapi itu terbaika buat bayi
sapi.
Di
dalam Alquran Allah sudah berfirman “ Setiap anak yang lahir kedunia itu dalam
keadaan fitrah, maka ibu bapaknya yang akan menjadikannya majusi, yahudi atau
nasrani.” Jadi tidak bisa dielakkan lagi amanah tentang menngasuh, mendidik
membesarkan, memberikasih saying kepada anak adalah orang tua terlebih lagi
ibu. Karena sebenarnya pembagian tugas sudah diterangkan oleg allah wanita
menjadi ibu dengan fitrahnya yang lembut
dan relati sabar dari pad ayah. Dan yang mencari nafkah adalah
laki-laki yang mengambil peran sebagai
kepala keluarga dengan fitrahnya yang kuat dan relative kurang sabar.
“Jadi
apakah wanita bila sudah menjadi ibu tidak boleh lagi bekerja, tidak boleh lagi
meningkatkan lagi kwalitas diri dan keintelektualitasan lagi??? Tidak bisa
berkreasi lagi?? Harus tinggal di rumah saja, apajadinya??? Kita tak tau
informasi donk,??” mungkin itulah pertanyaan yann terbersit dikepala kita.
Bukan berarti seorang ibu tidak boleh bekerja, berbisnis, berkarir, kuliah, atau sedikit “bersenang-senang”
seperti berkumpul dengan teman-teman, belanja.
Sang ibu masih bisa berkarir bahkan sampai pada puncak karir sekalipun
seperti pimpinan, bos atau keapala sekolah sambil tetap mengasuh anak Yaitu
dengan membuka usaha di rumah seperti catering, menjahit,membuka les, menjadi
penulis, atau bisnis on line dan banyak bisnis lainya. Si ibu pun bisa pergi
pengajian,seminar, pelatihan untuk meningkatkan keintelektualannya sambil tetap
mengasuh anak. Sekarang banyak kok ibu-ibu yang membawa anak kepengajian,
sekalian untuk membiasakan anak-anak ke suasana dan lingkungan pengajiaan.
Sekarang banyak kok penyelenggara seminar dan pelatihan yang memperbolehkan
peserta membawa anak. Tentu saja anak dikondisikan dengan sebaik-baiknya agar
sianak tidak rewel.
Anak
adalah amanah Allah kepada kita orang tua mereka. Kita yang akan diminta
pertanggung jawaban nanti baik di dunia maupun diakhirat nanti. Karena ini
adalah amnah besar, yaitu sorang insan manusia yang suci, yang kelak mungkin
saja akan menjaddi pemimpin di negeri ini atau bahkan menjadi pemimpin dunia,
ilmuan besar atau mungkin hanya orang biasa di mata manusia, tetapi dia tetap makhluk
Allah yang paling mulia,yaitu manusia Apakah akan kita sia-sai kan pengasuhan
dan penjagaan mereka. Apalgi penjagaan saat-saat usia emas mereka yaitu 0th-
3th. Bahkan penemuan terbaru rentang usia emas lebih panjang yaitu dari usia 0th-
6th. Disaat mereka masih suci bersih seperti kertas putih yang
kosong, apakah akan kita biarkan orang lain yang akan melukisnya. Sebab bisa
saja lukisan orang di kertas putih kita tdak sesuai dengan ide kita, bahkan
mungkin saja bertentanggan dengan nilai-nilai agama dan sopan santun. Sebab
sesungguh nya lukisan dikertas yang putih lah yang paling berkesan dan menjadi
pijakan bagi lukisan-lukisan berikutnya. Jadi melukislah yang terbaik dikertas
kosong itu.
Sesungguhnya
kita hanya sebentar menikmati ( bagi
yang menikmati atau direpotkan bagi yang merasa direpotkan) mengasuh anak-anak
kita secara intens, mengendong mereka , menina bobokan mereka, mencium mereka
dengan dekat dan sering, memandikan mereka, mengajarkan mereka berjalan, bicara
dan keterampilan lainnya. Sesungguhnya kenikmatan tersebut hanya bisa kita
nikmati saat mereka berumar 0th-3th atau yang disebut juga dengan
usia emas..beranjak mereka dari usia emas, mereka telah punya lingkungan selain
kta. Mereka sudah mulai bersosialisasi dengan lingkungan. Mereka sudah
mempunyai teman, guru, bahkan idola yang mereka kagumi dan mereka turuti
melebihi kita ibunya.bahkan andaikan kita ingin dekat dengan mereka secara intens
sudah kecil kemungkinannya,karena mereka akan malu bila kita ingin mengendong
mereka, atau kalau mereka maupun kita tak kuat lagi mengendong mereka dengan
bobot tubuh yang tidak ringan lagi. Kita
ingin bermain dengan mereka, mungkin tidak mengasyikkan lagi bagi mereka,
karena bermain dengan teman sebayanya lebih menarik, apalagi kita hanya”
pendatang baru” dalam permainan anak-anak kita.Saat ingin memasangkan baju,
memandikan atau menyuapi mereka, mereka tak mau lagi karean malu akan
ditertawai oleh teman-teman mereka.Bila anak-anak kita sudah remaja tentu teman
dan kesibukan sekolah sudah menyita waktu dan perhtian mereka. Baru saja anak
kita remaja, maka mereka yang dulu meronta-ronta menangis karena kita
tinggalkan bekerja, telah tampil menjadi sosok dewasa. Di mana mungkin saja
mereka kuliah di luar kota atau bahkan keluar negeri. Jangan kan mengendong
mereka, memeluk mereka, bertemu dengan mereka saja sudah jarang. Sebentantar kuliah mereka akan
bekerja dan menikah. Jadi semakin kecillah kita bisa dekat dengan buah hati
kita Jadi sebenarnya kerja keras seorang
ibu dalam mengasuh anak hanya sebentar. Hanya beberap tahun. Andai saja sang
ibu menunda beberapa tahun untuk berkarir, penulis rasa tidak akan tertinggal
jauh dari teman teman yang lebih dahulu berkarir di kantor. Toh sembari
menunggu waktu yang pas untuk berkarir ( bagi yang memang ingin sekali berkarir
di kantor) sang ibu masih bisa melakukan kegiatan positif yang juga masih
menambah penghasilan, wawasan, dan pergaulan seperti yang diuraikan diatas. Toh
kalau memang sudah rezki kita ( yang beranggapan bekerja di kantor itu
merupakan rezki) tak akan jatuh ketangan orang lain. Dan kalau yang beranggapan
bekerja di kantor adalah amanah, juga tidak akan bisa mengelak dari amanah,
tentu saja harus tahu dong amanah mana yang prioritas.
Seorang
ibu menangis dan menyesal karena tidak bisa lagi merangkul, memeluk putra
satu-satunya yang tersesat kepergaulan yang kurang baik. Si ibu ingin
meyakinkan bahwa siibu lebih baik dari pada teman teman berandalan si anak.
Tetapi terlambat, si anak telah menemukan “kehangatan” yang tidak ditemukannya
di keluarga karena si ibu sibuk dengan kegiatannya di kumpulan teman-teman
berandalnya.
Lain
lagi kisah seorang ibu. Sudah tua dan sakit-sakitan.beliau memiliki beberapa orang anak. Tapi tidak ada
satupuan yang ada disamping beliau sewaktu beliau sakit. Sampai-sampai yang
membawa kerumah sakit adalah pembantunya.
Beliau dirawat di ruanganVIP di rumah sakit ternama. Di mana saat pasien
lain ditunggui oleh anak cucu mereka di rumah sakit yang sama, si ibu tidak.
Beliau hanya di temani selang infuse dan obat-obatan. Sesekali perawat
mengontrol keadaan si ibu. Kemanakah anak-anak ibu tersebut?? ternyata mereka
sibuk bekerja dengan alas an mencarikan uang untuk biaya rumah sakit ibu nya
yang cukup tinggi. Karena menurut mereka ibu mereka harus dapat obat yang paten
dari dokter spesialis terkenal dan dirawat di ruah sakit dengan sewa kamar
setara dengan hotel berbintang. Tapi itu sajakah yang di butuh kan si ibu yang
sakit. Tentu jawab nya tidak!! Si ibu butuh berhtian, kasih sayang dari anak
cucu, walaupun ada perawat yg mengonmtrol. Apakah anak si ibu adalah anak
durhaka?? Tunggu dulu, sebelum kita mencap sianak durhaka mari kita lihat dan perhatikan doa untuk kedua
orang tua yang berbunyi “Rabbigfirlii waliwli dayya warhamhuma kama robbaynii
shoghiro,” yang artinya Ya Allah ampunilah dosaku dan ampunilah kedua orang tua
ku dan sayanggilah mereka seperti mereka menyayanggi ku di waktu kecil.”
Mungkin kondisi si ibu yang terbring
sakit tadi merupakan pengabulan doa anak-anak mereka.” Sayanggilah mereka
seperti mereka menyayanggi kami diwaktu keil”. Mungkin saja waktu anak-anak ibu
itu kecil dan sakit, si ibu berbuat yang sama terhadap anak-anak nya.
Meninggalkan si anak yang sedang sakit di rumah sakit terkenal di kamat VIP,
dengan doktetrspesialis anak terkenal dan perawawt yang telaten. Di manakah si
ibu??? Si ibu watu itu mengambil peran sianak sekarang. Sibuk mencari uang demi
anak dapat dirawat dengan obat paten, rumah sakit terkenal, kamar rawat VIP.
Sebab apa yang kita tanam, itu pula yang kita tuai.
Ada
lagi seorang ibu yang hatinya menagis saat anaknya lebih dekat, lebih sayang,
lebih cinta kepada pembantunya. Sampai-sampai bahasa tubuh, hobi dan logat
bicara nya pun seperti pembantu. Bila si pembantu tidak ada, maka sianak akan
menangis dan sedih karena “ibu” yang dicintainya tidak ada didekatnya.
Kebalikan dari itu, bila ibu kandungnya yang modis dengan pakaian dinasnya,
berpendidikan pergi, tak sedikit pun sianak sedih apalagi menagis. Mungkin saja
si anak tidak merasa kehadiran si ibu, mungkin sianak hanya mengganggap ibu nya
orang asing yang mampir sebentar di
rumahnya. Jadi kalau orang asing buat apa dia bersedih kalau orang itu pergi.
Dalam artian kehadiran si ibu tidak berpengaruh lagi bagi si anak. Mungkin dulu
kehadiran si ibu sangan di rindukan dan perpengaruh kuat dalam hati si anak.
Tapi karena sudah terlalu sering teracuhkan,dan sianak mendapatkan dari
pembantu nya, walaupun hanya sedikit perhatian dan kasih sayang, maka sianak
menjadikan pembantunya “ibu” pengisi ruang hati nya yang kosong akan sosok ibu.
Dari
kejadian diatas itu baru saja ibu sianak
pergi bekerja. kalau ibu sianak pergi dari dunia ini pulang kehadirat Ilahi,
apakah si anak akan sedih, akan merasa kehilanggan, akan mersa rindu/ bila
jaabnya tidak apakah si anak masih ingat dengan ibunya, kira-kira masih
teringgat tidak oleh sianak untuk mendoakan siibu yang mungkin sedang disiksa
di dalam kubur, karena telah melalaikan sholat karena sibuk, memakan hak orang
dan dosa-dosa lainnya. Karena sungguh selain amal jariah dan ilmu yang berguna,
doa anak yantg sholehlah yang dapat menyelamatkan orang tuanya dari siksa
kubur.
Kembali
kita bertanya kepada diri sendiri, apa benar kita berhabis-habis hari bekerja,
untuk kebagiaan anak-ana?? Atau ternyata hanya untuk mendapatkan pendapatan
yang lebih banyak?? Atau hanya untuk kebahagian dan kepuasan kita pribadi, atau
karena gengsi yang tercipta di masyarakat bahwa yang kerja kantoran itu lebih
bergengsi?? Atau karena tingkat pendidikan kita yang kata kita tinggi, sehingga
gengsi, dan merasa “sarjana”nya terbuang
percuma kalau hanya menjadi Ibu Ruamah Tangga??
Sesungguhnya
budaya hedonisme (kaya hidup bermewah-mewahan) dan budaya materialistis sudah
sangat parah menyerang kita.Sega Segala hal mudah didapatkan dengan cara kredit
mulai dari pakaian,perabotan rumah tangga, handphone, kendaraan, perhiasan,
rumah dan sebagai nya sangat mudah didapat dengan hanya memperlaihatkan kartu
identitas. Maka berlomba-lombalah orang mengambil barang ini itu. Pada hal
kadang-kadang barang yang dikredit tersebut bukanlah barang yang di butuhkan.
Bahkkan hanya sekedar prestice belaka, dan ada juga yang karena “ mumpung
kredit dengan DP ringan. Sehingga “besar pasak dari pada tiang sudah melanda
setiap keluarga kita. Budaya menabung sudah ditinggalkan dan budaya mengkredit
membudaya. Sadarkah kita, kita korban dari strategi pemasaran para produsen
barang??? Sadarkah kita adalah korban iklan alias korik!!! Dan parah nya lagi,
kredit hanya baha halus dari hutang. Inggatkah kita, berhutang memang di
bolehkan dalam bermu’amalah di dalam Islam, akan tetapi tidak dianjurkan.
Karean urusan hutang piutang tidak hanya di dunia, bila tidak terbayar, urusannya sampai keakhirat.
Sesungguhnya
untuk menjadi seorang ibu di butuhkan master atau doctor di segala bidang ilmu.
Ilmu psikologi anak, ilmu gizi, ilmu kedokteran , sosiologi, dan banyak ilmu
lainnya. Jadi jangan gengsilah seorang yang bertitel S2 apalagi hanya S1 untuk menjadi
ibu rumah tangga mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Karena ini pekerjaan
terhormat kok!!Pekerjaan penuh tantanggan, pekerjaan yang mengasyik kan kok!
Apalagi ini adalah ibadah tertinggi bagi seorang muslimah di mata Allah SWT.
Kalau
ada yang beralasan menghabiskan waktu, sehingga tidak sempat mengasuh anak
karena alasan emasipasi wanita, sungguh anggapan nya terhadap emansipasi wanita
sudah terlalu kedodoran. Emansipasi yang diperjuangkan R.A Kartini bukan lah
emansipasi yang menjadikan seorang wanita apalagi seorang ibu lupa akan
kodratnya, lupa akan tanggung jawabnya, lupa terhadap buah hati yang di kandung
nya sendiri. Sungguh ini bukan lagi emansipasi wanita, tapi ini sudah
feminismenya dunia barat. Di sana ditempat lahirnya faham itu juga sudah
ditinggalkan. Jadi marilah para ibu, sebelum terlambat mari kita ambil peran
terhormat ini, pekerjaan mulia ini. Rangkul anak-anak kita. Cium dan belailah
mereka sebelum terlambat. Karena waktu cepat berlalu, tak akan mundur sedikitpun.
Masa anak-anak Cuma sebentar. Karena sebentar saja gadis-gadis kecil yang
mengelayut manja dalam gendongan , akan tumbuh menjadi gadis remaja. Tak lama,
akan ada seorang yang mohon izin kepada kita
untuk membawa nya jauh sesudah beberapa hari mereka menikah. Atau anak laki-laki
yang menangis sambil berguling-gulin di lantai, sebentar saja akan menjelma menjadi pemuda dengan suara yang
sudah besar dan berat. Disaat jiwa-jiwa meraka masih suci dan polos mari kita
ukir dengan ukiran tangan kita. Jangan sampai kecolongan orang dulu yang
mengukir jiwa-jiwa mereka. Karena yang akan rugi kita, ibu nya. Yang akan
menanggis, kita!! Ibu nya!! Akan akan kecewa, kita ibu nya!! Dan yang paling
penting, yang paling berdosa, adalah kita, Ibunya.!!!
Langganan:
Postingan (Atom)