Wanita dan Perubahan
Oleh: Edriana, S.Pd
Fathimah binti Khatab nama nya. Seorang wanita Quraisy adik perempuan dari seorang pemuda yg menjaga kehormatan dirinya dan berwatak tempramental yaitu Umar bin Khatab.
Berbeda dengan kakaknya yg menentang dakwah Rasulullah, Fathimah adalah seorang wanita yang menerima dakwah Rasulullah dan menjadi pendukungnya.
Disuatu hari Umar ingin sekali membunuh Rasulullah. Diambilnya sebilah pedang, lalu berjalan mencari Rasulullah untuk dibunuhnya. Tetapi saat di jalan, Umar dicegat oleh seseorang yg memberi kabar yg sangat mengejutkan, dimana Fathimah saudari perempuannya sudah menerima dakwah Rasulullah dan sudah masuk Islam beserta suaminya. Murka Umar sudah tidak dapat dibendung. Diseretnya langkah menuju rumah Fathimah. Diketoknya pintu rumah dg kasar. Setelah pintu terbuka Umar bertanya tentang hal yang didengarnya saat mendekati rumah Fathimah, yaitu saat salah seorang sahabat membacakan surat Thoha. Suami Fathimah bertanya kepada Umar tentang kebenaran yang ada selain agamanya Umar. Umarpun marahnya kepada suami Fathimah.
Fathimah berusaha menolang suaminya, tetapi umar memukul pipinya sampai berdarah. Apakah amarah Umar membuat Fathimah gentar? Ternyata jawabannya tidak, bahkan hal itu semakin membuatnya berani menyampaikan kebenaran dan mengakui keIslamannya. Melihat darah di pipi adik kesayangannya itu, Umar merasa menyesal dan malu akan perbuatannya.
Singkat cerita, umar melihat lembaran Alquran yg disembunyikan Fathimah. Umar meminta dan membaca lembaran Quran tersebut yang bertuliskan surat Thoha..
Dengan izin Allah, hidayahpun datang.
Umar melanjutkan perjalanannya mencari Rasulullah, tetapi dgn maksud dan tujuan yang telah berbeda ibarat siang dan malam. Sekarang beliau mencari Rasulullah untuk menyatakan keIslamannya dan menjadi pendukung dakwah Rasulullah.
Dalam kisah di atas dapat kita baca peranan seorang wanita yang begitu siknifikan. Fathimah, lewat lisan dan keberaniannya, hidayah Allah datang merubah seorang Umar bin Khatab yang terkenal berani dan benci kepada Rasulullah menjadi Umar yang sangat mencintai Rasulullah. Sehingga bergabungnya Umar dgn kaum Muslimin mejadi babak baru bagi dakwah Rasulullah. Dari berdakwah secara sembunyi- sembunyi menjadi berdakwah secara terang-terangan.
Oleh sebab itu, wahai saudari ku berbicaralah dan berbuatlah semampu yang kita bisa. Jangan diam saja. Mari kita kerahkan semua potensi yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita Karena bisa saja lewat lisan-lisan kita kebenaran terbuka. Lewat aksi-aksi kita perubahan itu terjadi.
Yang akan membuat sejarah baru bagi dunia ini.
Mari berbuatlah yang terbaik bagi diri kita keluarga kita,agama kita, tanah air dan negara kita, bahkan berbuatlah untuk seluruh dunia.
Sumber:
Sirah Nabawiyah, karangan Syaikh shfiyyurrahman Al-Mubarakfury.
#2019gantipresiden
#ayolebihbaik
#mujahidah
#srikandibangsa
Rabu, 03 April 2019
Mari Lanjutkan Perjuangan
Mari Lanjutkan Perjuangan
Oleh: Edriana, S.Pd
Kita memasuki bulan Agustus lagi...
Bulan yang begitu bermakna bagi Bangsa kita. Bulan yang identik dengan keheroikan..bulan yang identik dengan
perjuangan, dan pengorbanan para pahlawan bangsa ini.
Perjuangan dan pengorbanan untuk menegakan Izzah bangsa yang tercabik-tercabik oleh keserakahan bangsa lain.
Perjuangan dan pengorbana agar kepala ini hanya menunduk dan sujud kepada Allah SWT saja, buka kepada bangsa lain yang mengerogoti bumi, air dan udara kita.
Perjuangan dan pengorbanan agar kita menjadi tuan dan pemain di negeri kita sendiri, bukan menjadi kacung dan penonton saja.
Mari kita lanjutkan perjuangan dan pengorbanan ini, karena setelah dirasa dan diamati, walaupun banyak kemajuan bangsa kita dibanding masa penjajahan dulu, tetapi rasanya masih banyak kesedihan dan air mata yang harus kita hapus.
Masih banyak rakyat yg tidak makan, tidak punya tempat tinggal, tidak berpendidikan di atas bumi yang penuh berkah ini...
Kekayaan negeri masih banyak dinikmati oleh bangsa lain. Sementara kita cuma melihat dengan mata nanar...
Generasi muda kita banyak yang menganggur dan dibunuh secara perlahan dengan NARKOBA dan teman-temannya. Sehingga bila tidak ditanggulangi dengan segera, kita akan kehilangan satu generasi. Betapa menyedihkannya.
Ibu-Ibu di negeri ini harus rela berpisah dengan putra disusuannya untuk bekerja di negeri lain demi mendapat kepingan Ringgit atau Riyal untuk makan dan menyekolahkan putra-putrinya.
Begitu lah nasib bangsa kita. Mari kita bangkit dan kita perbaiki. Perbaiki diri kita, keluarga kita, lingkungan dan negara kita.
Mari berbuat kebaikan. Karena sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan akan lebih baik dari pada kita diam saja.
Kebaikan2 kecil bila dihimpun, maka akan menjadi kebaikan besar. Yang bisa merubah segala hal.
Mari berbuat untuk kebaikan bangsa dan negeri ini, agar pengorbanan para pahlawan kita tidak menjadi sia-sia.
Merdeka!
Oleh: Edriana, S.Pd
Kita memasuki bulan Agustus lagi...
Bulan yang begitu bermakna bagi Bangsa kita. Bulan yang identik dengan keheroikan..bulan yang identik dengan
perjuangan, dan pengorbanan para pahlawan bangsa ini.
Perjuangan dan pengorbanan untuk menegakan Izzah bangsa yang tercabik-tercabik oleh keserakahan bangsa lain.
Perjuangan dan pengorbana agar kepala ini hanya menunduk dan sujud kepada Allah SWT saja, buka kepada bangsa lain yang mengerogoti bumi, air dan udara kita.
Perjuangan dan pengorbanan agar kita menjadi tuan dan pemain di negeri kita sendiri, bukan menjadi kacung dan penonton saja.
Mari kita lanjutkan perjuangan dan pengorbanan ini, karena setelah dirasa dan diamati, walaupun banyak kemajuan bangsa kita dibanding masa penjajahan dulu, tetapi rasanya masih banyak kesedihan dan air mata yang harus kita hapus.
Masih banyak rakyat yg tidak makan, tidak punya tempat tinggal, tidak berpendidikan di atas bumi yang penuh berkah ini...
Kekayaan negeri masih banyak dinikmati oleh bangsa lain. Sementara kita cuma melihat dengan mata nanar...
Generasi muda kita banyak yang menganggur dan dibunuh secara perlahan dengan NARKOBA dan teman-temannya. Sehingga bila tidak ditanggulangi dengan segera, kita akan kehilangan satu generasi. Betapa menyedihkannya.
Ibu-Ibu di negeri ini harus rela berpisah dengan putra disusuannya untuk bekerja di negeri lain demi mendapat kepingan Ringgit atau Riyal untuk makan dan menyekolahkan putra-putrinya.
Begitu lah nasib bangsa kita. Mari kita bangkit dan kita perbaiki. Perbaiki diri kita, keluarga kita, lingkungan dan negara kita.
Mari berbuat kebaikan. Karena sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan akan lebih baik dari pada kita diam saja.
Kebaikan2 kecil bila dihimpun, maka akan menjadi kebaikan besar. Yang bisa merubah segala hal.
Mari berbuat untuk kebaikan bangsa dan negeri ini, agar pengorbanan para pahlawan kita tidak menjadi sia-sia.
Merdeka!
Mozaik Rasa Bangsa Kita
Mozaik Rasa Bangsa Kita
Oleh: Edriana, S.Pd
Ditengah sibuk gadis-gadis kecil itu latihan drumband untuk pawai, dan dengan berkibarnya sang saka di setiap rumah, rasa kebanggaan akan keheroikan para pejuang bangsa kembali menyeruak. Tersadar, bangsa dan negara ini membutuhka berjuta nyawa dan berabad lamanya untuk memperjuangkan kemerdekaan. Kemerdekaan negara kita, Indonesia.
Ditengah hiruk-pikuknya panggangung politik, memuncul tokoh-tokoh muda dan baru. Menimbulkan semangat dan harapan. Membuktikan negeri ini masih ada, dan masih bisa berregenerasi ditegah himpitan beban kehidupan. Melahirkan rasa untuk bangkit yang bergelora.
Tetapi dari sana, rasa sedih menyeruak. Indonesia sedang berduka. Cobaan Allah datang dengan dahsyatnya. Meluluh lantakan apa yang ada. Semua tersentak, semua terkesima. Negeri seribu mesjid hancur, tersisa hanya puing dan air mata. Di sini muka harus tersungkur. Merenung, dan mentafakuri apa makna yang tersirat dari segalanya.
Rasa lainnya, di pasar-pasar para pedangang menjerit. Semua mahal, berapa harga barang harus di jual. Dirumah-rumah apalagi. Para ibu pusing mengatur strategi, mensiasati nafkah yang diterima agar putra-putri tetap ceria dan kebutuhan lainnya tetap tersedia.
Pelaku usaha semakin termenung melihat rupiah semakin jatuh dan tergulung. Bisnis tersendat, jangankan untung, kadang malah buntung.
Tapi sekali lagi itulah mozaik rasa bangsa kita. Dan ada suatu rasa yg tertinggal. Ada rasa kemenangan. Rasa Juara. Dari para pemuda kita yang memperjuangkan merah-putih di padang hijau yang penuh berkah. Di sana, teriakan menang, teriakan sang juara itu berasal. Indonesia bisa! Indonesia juara!
Bersyukur menjadi rakyat negeri ini. Rakyat Indonesia.
Apapun yang terjadi, Indonesia tetap negeri yang ku cintai.
Merdeka!
#merdeka
#akucintaindonesia
#2019gantipresiden
#partaikeadilansejahtera
#ayolebihbaik
#berkhitmaduntuknegeri
Oleh: Edriana, S.Pd
Ditengah sibuk gadis-gadis kecil itu latihan drumband untuk pawai, dan dengan berkibarnya sang saka di setiap rumah, rasa kebanggaan akan keheroikan para pejuang bangsa kembali menyeruak. Tersadar, bangsa dan negara ini membutuhka berjuta nyawa dan berabad lamanya untuk memperjuangkan kemerdekaan. Kemerdekaan negara kita, Indonesia.
Ditengah hiruk-pikuknya panggangung politik, memuncul tokoh-tokoh muda dan baru. Menimbulkan semangat dan harapan. Membuktikan negeri ini masih ada, dan masih bisa berregenerasi ditegah himpitan beban kehidupan. Melahirkan rasa untuk bangkit yang bergelora.
Tetapi dari sana, rasa sedih menyeruak. Indonesia sedang berduka. Cobaan Allah datang dengan dahsyatnya. Meluluh lantakan apa yang ada. Semua tersentak, semua terkesima. Negeri seribu mesjid hancur, tersisa hanya puing dan air mata. Di sini muka harus tersungkur. Merenung, dan mentafakuri apa makna yang tersirat dari segalanya.
Rasa lainnya, di pasar-pasar para pedangang menjerit. Semua mahal, berapa harga barang harus di jual. Dirumah-rumah apalagi. Para ibu pusing mengatur strategi, mensiasati nafkah yang diterima agar putra-putri tetap ceria dan kebutuhan lainnya tetap tersedia.
Pelaku usaha semakin termenung melihat rupiah semakin jatuh dan tergulung. Bisnis tersendat, jangankan untung, kadang malah buntung.
Tapi sekali lagi itulah mozaik rasa bangsa kita. Dan ada suatu rasa yg tertinggal. Ada rasa kemenangan. Rasa Juara. Dari para pemuda kita yang memperjuangkan merah-putih di padang hijau yang penuh berkah. Di sana, teriakan menang, teriakan sang juara itu berasal. Indonesia bisa! Indonesia juara!
Bersyukur menjadi rakyat negeri ini. Rakyat Indonesia.
Apapun yang terjadi, Indonesia tetap negeri yang ku cintai.
Merdeka!
#merdeka
#akucintaindonesia
#2019gantipresiden
#partaikeadilansejahtera
#ayolebihbaik
#berkhitmaduntuknegeri
Kepada Bapak Berdua, Kami Titipkan Asa
Kepada Bapak Berdua, Kami Titipkan Asa
Oleh: Edriana, S.Pd
Para qiyadah sudah melaksanakan tugas nya, mencarikan calon pemimpin terbaik bagi bangsa ini. Semuanya karena izin Allah, semuanya karena Arrahman Arrahimnya Allah.
Proses panjang yang melelahkan, dari sekian banyak nama-nama putra terbaik bangsa, dari syura ke syura berikutnya. Dari satu kota ke kota berikutnya, bahkan sampai dr negara ke negara lainnya hal itu berjalan. Tidak sehari, tidak berbilang bulan saja.
Tidak dari satu, dua aspek saja tetapi segala aspek dipertimbangkan dan dipikirkan dengan segenap hati dan pikiran.
Lelah jiwa raga. Mata mengantuk, tak tertidurkan, perut laparpun kadang ditahan. Tinggalkan anak, istri dan keluarga.
Demi Indonesia tercinta.
Kami menunggu dengan gelisah, demam raga, demam jiwa. Segala rasa bercampur semua. Segala prediksi sudah dikeluarkan, bahkan hinaan sempat juga terdengar.
Alhamdulillah, dari sekian banyak istkharah dan doa, akhirnya Allah ijabah juga. Lahirlah calon pemimpin bangsa yang insyaAllah cinta rakyat dan negeri ini.
Kepada mu Bapak2 terhormat, kami titipkan asa, agar Indonesia kembali berjaya...
#prabowosandi
#2019gantipresiden
#koalipksgerindrapandemokrat
#ayolebihbaik
#berkhitmaduntukrakyat
Oleh: Edriana, S.Pd
Para qiyadah sudah melaksanakan tugas nya, mencarikan calon pemimpin terbaik bagi bangsa ini. Semuanya karena izin Allah, semuanya karena Arrahman Arrahimnya Allah.
Proses panjang yang melelahkan, dari sekian banyak nama-nama putra terbaik bangsa, dari syura ke syura berikutnya. Dari satu kota ke kota berikutnya, bahkan sampai dr negara ke negara lainnya hal itu berjalan. Tidak sehari, tidak berbilang bulan saja.
Tidak dari satu, dua aspek saja tetapi segala aspek dipertimbangkan dan dipikirkan dengan segenap hati dan pikiran.
Lelah jiwa raga. Mata mengantuk, tak tertidurkan, perut laparpun kadang ditahan. Tinggalkan anak, istri dan keluarga.
Demi Indonesia tercinta.
Kami menunggu dengan gelisah, demam raga, demam jiwa. Segala rasa bercampur semua. Segala prediksi sudah dikeluarkan, bahkan hinaan sempat juga terdengar.
Alhamdulillah, dari sekian banyak istkharah dan doa, akhirnya Allah ijabah juga. Lahirlah calon pemimpin bangsa yang insyaAllah cinta rakyat dan negeri ini.
Kepada mu Bapak2 terhormat, kami titipkan asa, agar Indonesia kembali berjaya...
#prabowosandi
#2019gantipresiden
#koalipksgerindrapandemokrat
#ayolebihbaik
#berkhitmaduntukrakyat
Pengabdian dan pengorbanan
Pengabdian dan Pengorbanan.
Oleh: Edriana, S.Pd
Pada sebagian orang mencajadi Calon Anggota Legislatif ( CALEG) adalah impian atau sebuah kehormatan. Tapi bagi saya menjadi caleg tidak lah demikian, tetapi amanah berat yang tidak pernah terpikirkan. Tiga kali menjadi istri caleg membuat saya sadar bahwa amanah ini sangat berat. Apa lagi takdir Allah ternyata juga mengamanahi saya menjadi caleg itu.
Amanah yang sangat berat menuntut pengorbanan lahir batin. Awal diminta menjadi caleg saja, sampai proses pendaftaran, itu sdh meminta pengorbanan lahir dan batin.
Amanah yang tidak melibatkan antara saya pribadi dgn Allah saja, tetapi harus, mau tidak mau melibatkan Partai, keluarga inti, keluarga besar, kerabat, tetangga, dan masyarakat.
Dimana kemauan, niat kita pribadi harus berbenturan dgn keinginan keluarga besar dan masyarakat yang sangat beragam pemahamannya.
Puja-Puji yang bisa saja memporak porandakan keikhlas. Dan ternyata puja-puji yang belum tentu benar. Selain Puja-puji, cacian dan hinaan, bahkan fitnah bisa saja menghampiri.
Jangan dikira kami senang dan bahagia saat gambar-gambar kami dipajangkan. Malu terasa di hati. Apalagi bagi kami caleg perempuan. Jangan dikira senyum kami di gambar itu senyum bahagia, tapi senyum terpaksa mengingat beban barat dirasa.
Kalau menurut saya, menjadi caleg bukanlah kehormatan, tetapi pengabdian dan pengorbanan.
Bagi teman-teman yang belum diamanahi menjadi caleg janganlah bersedih. Karena memang bukan untuk disedihkan.
Nikmati dan syukuri apapun peran mu. Karena pemeran utama adalah pemeran yang bisa mematri ikhlas dihati untuk Ilahi Rabbi.
Oleh: Edriana, S.Pd
Pada sebagian orang mencajadi Calon Anggota Legislatif ( CALEG) adalah impian atau sebuah kehormatan. Tapi bagi saya menjadi caleg tidak lah demikian, tetapi amanah berat yang tidak pernah terpikirkan. Tiga kali menjadi istri caleg membuat saya sadar bahwa amanah ini sangat berat. Apa lagi takdir Allah ternyata juga mengamanahi saya menjadi caleg itu.
Amanah yang sangat berat menuntut pengorbanan lahir batin. Awal diminta menjadi caleg saja, sampai proses pendaftaran, itu sdh meminta pengorbanan lahir dan batin.
Amanah yang tidak melibatkan antara saya pribadi dgn Allah saja, tetapi harus, mau tidak mau melibatkan Partai, keluarga inti, keluarga besar, kerabat, tetangga, dan masyarakat.
Dimana kemauan, niat kita pribadi harus berbenturan dgn keinginan keluarga besar dan masyarakat yang sangat beragam pemahamannya.
Puja-Puji yang bisa saja memporak porandakan keikhlas. Dan ternyata puja-puji yang belum tentu benar. Selain Puja-puji, cacian dan hinaan, bahkan fitnah bisa saja menghampiri.
Jangan dikira kami senang dan bahagia saat gambar-gambar kami dipajangkan. Malu terasa di hati. Apalagi bagi kami caleg perempuan. Jangan dikira senyum kami di gambar itu senyum bahagia, tapi senyum terpaksa mengingat beban barat dirasa.
Kalau menurut saya, menjadi caleg bukanlah kehormatan, tetapi pengabdian dan pengorbanan.
Bagi teman-teman yang belum diamanahi menjadi caleg janganlah bersedih. Karena memang bukan untuk disedihkan.
Nikmati dan syukuri apapun peran mu. Karena pemeran utama adalah pemeran yang bisa mematri ikhlas dihati untuk Ilahi Rabbi.
Kekuatan Dari Kelembutan
Oleh: Edriana, S.Pd
Astagfirullah, Bandara Hang Nadim di Batam ricuh, karena apa? Karena ada yang takut akan perkataan dan aksi seorang wanita yaitu Ibu Neno Warisman.
Kenapa begitu ditakutkan seorang Neno Warisman? Bukankah Ibu Neno bukanlah seorang manusia yang kuat sakti madraguna, bukan kan Ibu Neno hanyalah seorang wanita yang notabenya lemah dan harus dilindungi bukan ditakuti dan didemo oleh banyak orang.
Tetapi itulah sisi lain seorang wanita. Makhluk Allah yang kadang hanya dipandang sebelah mata, dipandang sebagai pelengkap saja ini, ternyata bisa membuat gentar banyak orang. Semangat beliau dalam menyuaran kebenaran begitu berkobar membakar hati dan raga. Sehingga orang2 yang selama ini diam dan beku menjadi cair dan bergerak!
Tidak hanya Ibu Neno warisman, Indonesia memiliki banyak wanita2 yang seperti beliau. Lembut tangannya saat membelai anak- anaknya, tetapi begitu perkasa saat berhadapan dengan ketidakadilan. Sebut saja Cut Nyak Dien, Siti manggopoh, Hj Rasuna Said, R.A Kartini dan banyak nama lainnya pada masa lalu. Yoyoh Yusroh, Marsinah adalah sosok wanita tangguh di zaman kontemporer.
Di siroh nabawiyah juga tercatat wanita-wanita tangguh itu seperti Sumayyah yang merupakan syahidah pertama dalam Islam, ada Nusaibah, Asma', Khaulah, Ummul Mukminin Khadijah dan banyak sahabiyah lainnya.
Itulah seorang wanita, sosok ibu penyanyang dan air mata bisa menjadi sosok yg berbeda saat hati nya tergugah dan tersakiti melihat anak-anak dan orang-orang yang dicintainya disakiti dan apalagi saat bangsanya dan negaranya dalam keterpurukan dan terdholimi.
#Powerofemakemak
#2019gantipresiden
#wanitatangguh
#dariwanitauntukindonesia
#berkhidmatuntuknegeri
Oleh: Edriana, S.Pd
Astagfirullah, Bandara Hang Nadim di Batam ricuh, karena apa? Karena ada yang takut akan perkataan dan aksi seorang wanita yaitu Ibu Neno Warisman.
Kenapa begitu ditakutkan seorang Neno Warisman? Bukankah Ibu Neno bukanlah seorang manusia yang kuat sakti madraguna, bukan kan Ibu Neno hanyalah seorang wanita yang notabenya lemah dan harus dilindungi bukan ditakuti dan didemo oleh banyak orang.
Tetapi itulah sisi lain seorang wanita. Makhluk Allah yang kadang hanya dipandang sebelah mata, dipandang sebagai pelengkap saja ini, ternyata bisa membuat gentar banyak orang. Semangat beliau dalam menyuaran kebenaran begitu berkobar membakar hati dan raga. Sehingga orang2 yang selama ini diam dan beku menjadi cair dan bergerak!
Tidak hanya Ibu Neno warisman, Indonesia memiliki banyak wanita2 yang seperti beliau. Lembut tangannya saat membelai anak- anaknya, tetapi begitu perkasa saat berhadapan dengan ketidakadilan. Sebut saja Cut Nyak Dien, Siti manggopoh, Hj Rasuna Said, R.A Kartini dan banyak nama lainnya pada masa lalu. Yoyoh Yusroh, Marsinah adalah sosok wanita tangguh di zaman kontemporer.
Di siroh nabawiyah juga tercatat wanita-wanita tangguh itu seperti Sumayyah yang merupakan syahidah pertama dalam Islam, ada Nusaibah, Asma', Khaulah, Ummul Mukminin Khadijah dan banyak sahabiyah lainnya.
Itulah seorang wanita, sosok ibu penyanyang dan air mata bisa menjadi sosok yg berbeda saat hati nya tergugah dan tersakiti melihat anak-anak dan orang-orang yang dicintainya disakiti dan apalagi saat bangsanya dan negaranya dalam keterpurukan dan terdholimi.
#Powerofemakemak
#2019gantipresiden
#wanitatangguh
#dariwanitauntukindonesia
#berkhidmatuntuknegeri
Kekuatan dari kelembutan
Kekuatan Dari Kelembutan
Oleh: Edriana, S.Pd
Astagfirullah, Bandara Hang Nadim di Batam ricuh, karena apa? Karena ada yang takut akan perkataan dan aksi seorang wanita yaitu Ibu Neno Warisman.
Kenapa begitu ditakutkan seorang Neno Warisman? Bukankah Ibu Neno bukanlah seorang manusia yang kuat sakti madraguna, bukan kan Ibu Neno hanyalah seorang wanita yang notabenya lemah dan harus dilindungi bukan ditakuti dan didemo oleh banyak orang.
Tetapi itulah sisi lain seorang wanita. Makhluk Allah yang kadang hanya dipandang sebelah mata, dipandang sebagai pelengkap saja ini, ternyata bisa membuat gentar banyak orang. Semangat beliau dalam menyuaran kebenaran begitu berkobar membakar hati dan raga. Sehingga orang2 yang selama ini diam dan beku menjadi cair dan bergerak!
Tidak hanya Ibu Neno warisman, Indonesia memiliki banyak wanita2 yang seperti beliau. Lembut tangannya saat membelai anak- anaknya, tetapi begitu perkasa saat berhadapan dengan ketidakadilan. Sebut saja Cut Nyak Dien, Siti manggopoh, Hj Rasuna Said, R.A Kartini dan banyak nama lainnya pada masa lalu. Yoyoh Yusroh, Marsinah adalah sosok wanita tangguh di zaman kontemporer.
Di siroh nabawiyah juga tercatat wanita-wanita tangguh itu seperti Sumayyah yang merupakan syahidah pertama dalam Islam, ada Nusaibah, Asma', Khaulah, Ummul Mukminin Khadijah dan banyak sahabiyah lainnya.
Itulah seorang wanita, sosok ibu penyanyang dan air mata bisa menjadi sosok yg berbeda saat hati nya tergugah dan tersakiti melihat anak-anak dan orang-orang yang dicintainya disakiti dan apalagi saat bangsanya dan negaranya dalam keterpurukan dan terdholimi.
#Powerofemakemak
#2019gantipresiden
#wanitatangguh
#dariwanitauntukindonesia
#berkhidmatuntuknegeri
Oleh: Edriana, S.Pd
Astagfirullah, Bandara Hang Nadim di Batam ricuh, karena apa? Karena ada yang takut akan perkataan dan aksi seorang wanita yaitu Ibu Neno Warisman.
Kenapa begitu ditakutkan seorang Neno Warisman? Bukankah Ibu Neno bukanlah seorang manusia yang kuat sakti madraguna, bukan kan Ibu Neno hanyalah seorang wanita yang notabenya lemah dan harus dilindungi bukan ditakuti dan didemo oleh banyak orang.
Tetapi itulah sisi lain seorang wanita. Makhluk Allah yang kadang hanya dipandang sebelah mata, dipandang sebagai pelengkap saja ini, ternyata bisa membuat gentar banyak orang. Semangat beliau dalam menyuaran kebenaran begitu berkobar membakar hati dan raga. Sehingga orang2 yang selama ini diam dan beku menjadi cair dan bergerak!
Tidak hanya Ibu Neno warisman, Indonesia memiliki banyak wanita2 yang seperti beliau. Lembut tangannya saat membelai anak- anaknya, tetapi begitu perkasa saat berhadapan dengan ketidakadilan. Sebut saja Cut Nyak Dien, Siti manggopoh, Hj Rasuna Said, R.A Kartini dan banyak nama lainnya pada masa lalu. Yoyoh Yusroh, Marsinah adalah sosok wanita tangguh di zaman kontemporer.
Di siroh nabawiyah juga tercatat wanita-wanita tangguh itu seperti Sumayyah yang merupakan syahidah pertama dalam Islam, ada Nusaibah, Asma', Khaulah, Ummul Mukminin Khadijah dan banyak sahabiyah lainnya.
Itulah seorang wanita, sosok ibu penyanyang dan air mata bisa menjadi sosok yg berbeda saat hati nya tergugah dan tersakiti melihat anak-anak dan orang-orang yang dicintainya disakiti dan apalagi saat bangsanya dan negaranya dalam keterpurukan dan terdholimi.
#Powerofemakemak
#2019gantipresiden
#wanitatangguh
#dariwanitauntukindonesia
#berkhidmatuntuknegeri
Langganan:
Postingan (Atom)